THE 77 GOLDEN STEPS

77 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

TAQDIM
HIDUP BAHAGIA DENGAN IMAN

Sesungguhnya orang yang bangkrut dan celaka adalah orang yang hidup tanpa iman. Ia tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan hidup secara hakiki. Ia tidak akan dapat mencapai puncak kesempurnaan jiwa. Golongan orang-orang ini senantiasa dalam kesengsaraan, kehinaan, penyesalan dan kecemasan.
Allah swt berfirman dalam Thaha ayat 124 :

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Kita mendambakan puncak kesempurnaan hidup dan puncak kesempurnaan jiwa, karena hal itu merupakan kunci kebahagiaan. Namun semua itu tidak akan kita dapatkan apabila dalam diri kita tidak ada upaya pembersihan diri dan penyucian jiwa serta tidak dalam bingkai keimanan kepada Allah swt. Kita tidak akan dapat melenyapkan kesedihan di dalam dada kita, tidak dapat melenyapkan kecemasan dan kegelisahan jika diri kita jauh dari Allah. Hidup tidak akan ada citarasanya, kecuali dengan keimanan sejati.
Alangkah sedihnya kehidupan yang tidak diiringi dengan sebuah keimanan. Alangkah pedihnya laknat abadi yang akan diterima oleh orang-orang yang tidak patuh menjalani manhaj Allah swt di muka bumi ini. Ingatlah pesan Allah dalam surat al An’am ayat 110.

Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
Sudah saatnya bagi kita bersikap lebih menerima apa adanya dan beriman dengan keyakinan yang kuat, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, melainkan Allah swt. Hal ini adalah setelah umat manusia menjalani percobaan panjang dan berat selama berabad-abad lamanya, akhirnya didapati bahwa menyembah berhala adalah perbuatan menyimpang, kekafiran adalah laknat. Melalui pengalaman panjang itu, dunia mendapati kesimpulan bahwa atheisme adalah kebohongan besar, para rasul adalah benar dan bahwa Allah adalah al Haq. BagiNya jua kerajaan, segala puji dan Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.
Dengan kadar dan kekuatan iman, kita akan mendapati suatu kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman. Allah swt berfirman dalam surat An Nahl ayat 97:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Kalaimat “kehidupan yang baik” dalam ayat tersebut adalah ketenteraman jiwa untuk menjalankan janji Tuhan dan mereka mempunyai pendirian yang teguh dengan diiringi cinta sejati kepada Allah swt.
Dengan hati yang tenteram, nurani yang bersih, cinta dan rindu kepada Allah, maka jiwa akan sehat dan terlepas dari gangguan penyakit. Manusia-manusia ini akan tenang, meskipun berhadapan dengan berbagai masalah besar. Mereka tegar dalam menghadapi takdir ilahi.
Kehaadiran buku ini, akan memberikan gambaran praktis dan aplikatif langkah-langkah penyempurnaan iman kita. Dengan bahasa yang sederhana, semoga kehadirannya memberi manfaat dan senantiasa diridhai Allah swt. Amin.

LANGKAH PERTAMA
PERCAYA KEPADA ALLAH

Keimanan kepada Allah adalah bagian yang paling mendasar dalam ajaran Islam. Keimanan tersebut merupakan keyakinan yang mendasar dari segala tindakan. Tentu saja praktek ibadah/ritual Islam harus dilandasi oleh konsepsi keimanan yang benar terhadap Allah. Langkah ini ditempuh dengan meyakini bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tunggal tanpa ada yang menyerupainya, bersifat qadim tanpa adanya awal, azaly tanpa permulaan. Dialah yang awal, yang akhir dan Yang Bathin. Allah bukan merupakan tubuh yang berbentuk maupun jauhar/unsur yang terbatas serta tertentu. Allah swt tidaklah menyerupai bentuk-bentuk, baik dalam segi ukuran maupun dalam hal dapat terbagi-bagi(la tatajaza’). Allah swt tidaklah menyerupai makhluk, tiada sesuatu yang menyerupaiNya, serta Dia pun tidak menyerupai apapun. Allah swt tidak dibatasi oleh ukuran serta tidak dibatasi oleh dimensi apapun.
Iman kepada Allah yaitu meyakini bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat yang agung serta sempurna, bersih dari sifat-sifat kekurangan, Dia tunggal, benar, memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, pencipta segala makhluk, bertindak sesuai kehendakNya, dan melakukan segala kekuasaan-Nya sesuai dengan keinginan-Nya. Demikian Ibnu Daqiiq al Id dalam Syarah Arbain An Nawawy.
Konsepsi keimanan tentang Allah dalam Islam dikenal dengan istilah tauhid. Istilah ini oleh para ulama’ didefinisikan sebagai keyakinan akan keesaan Allah. Pengakuan akan keesaan Allah atau tauhid itu terungkap dalam kalimat ”laa ilaaha illallaah”, tidak ada tuhan yang berhak dsembah, selain Allah. Tauhid bukan semata-mata keyakinan akan keesaan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang pantas disembah (Ma’bud), namun juga keyakinan bahwa Allah satu-satunya Dzat yang memiliki dan menguasai langit, bumi beserta segala isinya. Dia yang menciptakan (Khaliq), Dia yang memberi Rizki (Razzaq), Dia yang memelihara (Mudabbir) dan seterusnya. Tauhid juga berarti keyakinan akan keesaan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang wajib ditaati. Dalam hal ini, Dia yang menentukan hukum dan aturan tentang segala sesuatu (Hakim). Dia yang melindungi (Waali). Dia yang menjadi tumpuan harapan dan untuk-Nya segala amal berumuara (Ghayah).
Berdasarkan uraian di atas, ikrar laa ilaaha illallah mencakup beberapa ikrar, yaitu : Pertama, Laa Khaaliqa Illallah, Tidak ada pencipta kecuali Allah. Hal ini dapat dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 21 dan 22:

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu Mengetahui.

Kedua, Laa Raaziqa Illallaah, yang berarti tidak ada pemberi rizki selain Allah. Firman Allah dalam Surat Faathir ayat 3 menginformasikan hal tersebut :
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain Dia; Maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

Ketiga, Laa Mudabbira Illallah, tidak ada pemelihara atau penjaga/pengatur atas segala sesuatu selain Allah. Hal ini sebagaimana tergambar dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 3:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Keempat, Laa Hakiima Illallah, tidak ada penentu hukum atau aturan selain Allah. Al Qur’an Surat Al An’am ayat 57

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik”.
Kelima, Laa Waliyya Illallah, Tidak ada pelindung selain Allah. Tentang pengakuan ini, dapat dipahami dari Surat Al Baqarah ayat 257:

Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Kenam, Laa Ghaayata Illallah, tidak ada tumpuan harapan selain Allah, dan segala amalan ditujukan hanya kepada Allah, bukan lainNya. Kita bisa mengambil pesan dari Surat AL Insyirah ayat 7-8 untuk memetik kesan ikrar ini :

Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7) Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(8)

Maksud ayat ini, khususnya ayat 7, sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.
Juga kesan dari Surat Al An’am ayat 162 :

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Keenam, Laa Ma’buuda Ilallah, tidak ada yang pantas disembah selain Allah. Tentang Ikrar ini dapat dilihat dalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 36

Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Dengan demikian, tauhid itu mempunyai tiga dimensi. Pertama, tuhid rububiyyah dalam hal Allah sebagai Khaliq, Raaziq dan Mudabbir. Kedua Tahuhid Mulkiyyah, dalam hal Allah sebagai Waali, hakim dan Ghayah. Ketiga Tauhid Uluhiyyah atau ilahiyah dalam hal Allah sebagai Ma’bud. Antara ketiga dimensi tauhid itu, berlaku hubungan kemestian dan pencakupan. Maksudnya, setiap orang meyakini tauhid rububiyyah mestinya meyakini tauhid mulkiyah dan tauhid ilahiyah. Sebaliknya, setiap orang yang telah sampai pada tingkat tauhid ilahiyah tentunya sudah melalui tauhid rububiyah dan tauhid mulkiyah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tauhid adalah keyakinan akan keesaan Allah baik dalam dimensi rububiyyah, mulkiyyah maupun ilahiyah. Ketiganya diyakini sebagai satu kebulatan.

2 comments on “THE 77 GOLDEN STEPS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s