HASYIYAH

 KOMITE HIJAZ:

CIKAL BAKAL KELAHIRAN NU?

 A  Tinjauan Singkat Komite Hijaz.

Komite Hijaz adalah merupakan cikal bakal kelahiran NU, komite ini dibentuk dan dimotori oleh KH, Abdul Wahab Hasbullah, atas restu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dibentuknya komite Hijaz adalah untuk mengirimkan delegasi Ulama Indonesia yang akan mengha-dap raja Ibnu Su’ud tahun 1925. Misi yang di emban diantaranya tentang kekhawatiran para Ulama terhadap rencana raja yang akan melarang peribadatan menurut madzhab di Tanah Haram, dan lain sebagainya.

Semula utusan para Ulama adalah KH, R. Asnawi Kudus, namun karena beliau ketinggalan kapal dan tidak jadi berangkat, keberatan itu disampaikan melalui telegram. Dikarenakan telegram belum mendapatkan jawaban juga, akhirnya berangkatlah KH, Abdul Wahab Hasbullah sebagai utusan. Secara resmi utusan itu adalah:

  • KH, Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)
  • Syaikh Ghanaim al-Misri (Mesir) akhirnya diangkat sebagai Mustasyar NU.
  • KH. Dahlan Abdul Qohar (Pelajar Indonesia yang berada di Makah).

Namun yang berangkat dari Indonesia hanya KH. Abdul Wahab Hasbullah. Misi yang di emban komite ini adalah menemui Raja Saudi (tanah Hijaz) Ibnu Sa’ud, untuk menyam-paikan pesan Ulama pesantren di Indonesia, yang meminta agar Raja tetap memberikan kebebasan berlakunya hukum-hukum ibadah dalam madzhab empat di Tanah Haram.

B  Munculnya Komite Hijaz.

Diantara penyebab munculnya komite Hijaz adalah jatuhnya Kholifah di Turki pasca Perang Dunia I, dan masuknya Ibnu Sa’ud yang ber-aliran Wahabi dengan menguasai Makkah yang menjadi sentral ibadah umat Islam. Ketika itu Saudi berkeinginan menegakkan kembali khilafah yang jatuh itu dengan menggelar konfe-rensi umat Islam se dunia, dan dipusatkan di Makah.

Utusan dari Indonesia yang diakui adalah : HOS. Cokroaminoto dan KH. Mas Mansur, tetapi ikut pula berangkat HM. Suja’ (Muhammadiyah), H. Abdullah Ahmad (Sumatera Barat)-H. Abdul Karim Amrullah (Persatuan Guru Agama Islam).

Kemudian KH. Abdul Wahab Hasbullah di coret keanggotaannya dengan alasan tidak mewakili orga-nisasi. Akhirnya para Ulama Pesantren membentuk tim tersebut dengan mengatas namakan Jam’iyah Nah-dlatul Ulama, meski secara resmi organisasinya belum didirikan.

Utusan para ulama pesantren dengan nama Komite Hijaz itu menunai hasil gemilang, raja menjamin kebebasan ber-amaliyah dalam madzhab 4 (empat) di Tanah Haram, dan tidak ada penggusuran ma kam Nabi Muhammad Saw, dan para Shahabatnya. Sepulang dari Makah KH. Abdul Wahab Hasbullah bermaksud membubarkan Komite itu karena di anggap tugasnya sudah selesai. Tapi keinginan itu dicegah oleh KH. Hasyim Asy’ari, komite tetap ber jalan, namun dengan tugas yang baru, yaitu membentuk organisasi Nahdlatul Ulama, sebagaimana isyarat yang diberikan oleh Syaikhona Cholil yang dikirimkan melalui salah seorang santrinya, KH. R As’ad Syamsul Arifin.

Sewaktu KH. Wahab Hasbullah akan mengumpulkan para Ulama di Surabaya, tampaknya intelejen Belanda sudah mencium tanda-tanda peristiwa besar akan terjadi di kota Surabaya. Karenanya me-reka tidak memberikan idzin pertemuan. Tetapi para Ulama tidak kehabisan cara untuk bisa menga-dakan pertemuan tersebut.

Dengan alasan acara “Tahlil” dalam rangka Haul Syaikhona Cholil Bangkalan, para Ulama berkumpul di rumah KH. Ridwan Abdullah di Jl. Bubutan VI Surabaya. Diluar rumah para undangan membaca Tahlil, sedangkan di dalam rumah para Kyai menggelar pertemuan untuk mendirikan jam’iyah NU. Selesai Tahlil itulah, tepatnya pada tgl. 16-Rajab-1344 H / 31-Januari-1926 lahirlah Jam’iyah NU.

C  NU Membangun Jiwa Nasionalisme.

Selain motif Agama, Nahdlatul Ulama lahir karena dorongan untuk Negara Indonesia merdeka. Para Ulama berusaha membangunkan semangat Nasionalisme melalui berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan, yang maksud dan tujuannya untuk melepaskan belenggu penjajah yang telah berhasil mencengkeram tanah air Indonesia selama hamper tiga setengah abad.

Nahdlatul Wathon tempat / wadah para pemuda NU dijadikan markas penggemblengan pemuda-pe muda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air, setiap akan dimulai kegiatan belajar , para murid diharuskan terlebih dulu  menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab, yang telah digubah oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam bentuk sya’ir seperti berikut ini :

Wahai bangsaku wahai bangsaku

Cinta tanah air bagian dari iman

Cintailah tanah air ini wahai bangsaku

Jangan kalian menjadi orang terjajah

Sungguh kesempurnaan itu harus

Dibuktikan dengan perbuatan

Dan bukanlah kesempurnaan itu hanya

Berupa ucapan

………………..

Wahai bangsaku yang berfikir jernih

Dan halus perasaan

Kobarkan semangat

Jangan jadi pembosan.

D  Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Ketika Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk tgl. 29-April-1945, KH. Ahmad Wahid Hasyim duduk sebagai salah seorang anggotanya. Begitu juga  KH. Abdul Wahab Has-bullah, KH. Masykur, dan KH. Zainul Arifin.

  1. Ahmad Wahid Hasyim bergabung sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, ia tercatat sebagai salah seorang perumus dasar Negara dan turut serta sebagai penanda tangan Piagam Jakarta bersama delapan orang lainnya.

Di saat Belanda datang lagi dengan membonceng tentara Sekutu sambil mengultimatum agar pejuang Indonesia menyerah, NU mengeluarkan fatwa Jihad pada 22-Oktober-1945. Fatwa ini dike-nal dengan sebutan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama itu mampu membakar semangat perjuangan kaum Muslimin. Mereka tidak gentar menghadapi kematian, karena perang tersebut dihukumi pe-rang sabil (perang agama).

Komite Hijaz dan Proklamir NU

Komite Hijaz dan pendirian NU ( Nahdlatul Ulama  )

Pada tahun 1923 di semenanjung arab Saudi telah terjadi peperangan sengit antara Ibnu Suud yang mengikuti faham wahabi dengan melawan pasukan Syarif Husein, sebagaikhalifah Umat Muslim sedunia pada Tangal 25 Desember 1924 diadakanlah kongres luar biasa yang membicarakan tentang pengiriman wakil Indonesia ke kongres khilafah sedunia yang akan di adakan di kairo pada bulam Maret 1925, yang kemudian diusul dengan Kongres Sentral Komite Khilafah di Jogjakarta pada tahun 1925.

 

Didalam pembicaraan Kongres tersebut kalangan Ulama Tradisional yang di wakili oleh KH.Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan agar delegasi yang dikirim ke kongres tersebut mendesak Raja Ibu Suud supaya memberikan kebebasan untuk bermazhab di tanah Hijaz itu, namun usul dari KH. Abdul Wahab Chasbullah itu tidak di pedulikan dan tidak direspon oleh anggota dikarenakan anggota yang datang adalah kaum Pembaharu.

Atas tidak di responnya usulan dari KH.Abdul Wahab Chasbullah, akhirnya beliau dan KH, Raden Asmawi yang mewakili atas nama Ulama Tradisional membuat “ Komite Hijaaz “ kemudian pada tanggal 31 Janyari 1926 komite Hijaz mengundang Ulama Se Jawa dan Madura untuk melakukan Muktamar di Surabaya.

 

  1. Mengirim utusan untuk menemukan Raja Ibnu Suud dengan menerima kepadanya agar memberikan kebebasan bermazhab, dengan cara agar Hukum Madhzab ( Hanafi, Maliki , Syafi’I dan Hambali ) tetap diberlakukan dengan dilindungi dan tidak memaksakan menganut Faham Wahabi.
  2. Oleh karena itu Para Ulama merasa Bingung atas nama apa dan siapa, mereka mengutus delegasi, maka KH, Mas Alwi mengusulkan saat itu juga agar utusan atau delegasi tersebut berbicara Jamiyah Nahdatul Ulama dengan usulan tersebut maka disetujui oleh muktamirin, dan saat itulah diploklamirkan berdirinya organisasi NU.

Kemudian delegasi yang diutus ke Hijaz untuyk mengahdiri kongres islam dan menemuai Raja Ibnu Suud dipimpin oleh Syekh Ghanin Al-Misri berhasil sukses membawa misi-misi Hijaz tersebut.

NU dan Komite Hijaz

Dalam Missi Penyelamatan Makam Nabi SAW

Komite Hijaz, mungkin saat ini masih ada orang yang belum tahu tentangnya, yaitu sebuah komite yang sangat melegenda dalam sejarah NU. Coba bayangkan, ketika itu Indonesia belum merdeka dari penjajahan Belanda, dalam keadaan serba susah para Ulama Aswaja di Jawa masih sempat mencermati apa yang tengah terjadi di Hijaz (Arab saudi). Waktu itu di Hijaz sedang dalam masa-masa awal berdirinya kerajaan arab Saudi.

Waktu itu betapa para Kiyai dan ulama Jawa gundah gulana mendengar kabar bahwa makam Rasulullah Saw akan diratakan dengan tanah atau dibongkar oleh penguasa Saudi yang ditopang penasehat Wahabi. Para ulama Jawa waktu itu berupaya keras mencari cara bagaimana mencegah pihak penguasa Hijaz agar tidak membongkar makam Nabi Muhammad saw.  Sungguh ini pekerjaan berat, dalam keadaan serba sulit di masa penjajahan Belanda, dimana transportasi dan alat komunikasi yang terbatas, para kiyai harus berangkat ke Hijaz dalam missi penyelamatan makam Rasulullah saw.

Pada tahun 1924-1925 Arab Saudi baru saja berdiri, dipimpin oleh Ibnu Saud, Raja Najed yang ber-aliran Wahabi. Aliran ini sangat dominan di tanah Haram, sehingga aliran lain tidak diberi ruang dan gerak untuk mengerjakan mazhabnya. Semasa kepemimpinan Ibnu Saud, terjadi eksodus besar-besaran ulama dari seluruh dunia. Mereka kembali ke negara masing-masing, termasuk para pelajar Indonesia yang sedang mencari ilmu di tanah Hijaz.

Aliran Wahabi yang terkenal puritan, berupaya menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah namun secara membabibuta dan melalui kekerasan. Maka beberapa tempat bersejarah, seperti rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat, termasuk makam Nabi Muhammad pun hendak dibongkar. Umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.

Komite Hijaz ini merupakan sebuah kepanitiaan kecil yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Setelah berdiri, Komite Hijaz menemui Raja Ibnu Suud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan,  seperti meminta Hijaz memberikan kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut.  Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.  Adapun lima permohonan yang disampaikan oleh Komite Hijaz, seperti ditulis di situs http://www.nu.or.id tersebut adalah

  1. memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqidah maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya.
  2. memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.”
  3. memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tidak dimintai lagi lebih dari ketentuan pemerintah.
  4. memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.
  5. Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) memohon balasan surat dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat balasan tersebut diserahkan kepada kedua delegasi tersebut.

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respons terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya organisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud. Makam Nabi Muhammad yang akan dibongkar pun tidak jadi dihancurkan.

disarikan dari berbagai sumber

 

========================================================

METODOLOGI DAKWAH

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS. An Nahl : 125

Ayat di atas mengandung tuntunan, acuan praktis metodologi dalam berdakwah. Metodologi berdakwah (uslubud da’wah) merupakan aspek yang urgen dalam membantu keberhasilan di medan dakwah. Sekalipun materi dakwah cukup baik, di sampaikan pada momentum yang tepat, tetapi mengabaikan metodologi yang benar mustahil akan mencapai target akhir dakwah yang diprogramkan.

Oleh karenanya, di samping seorang da’i membekali diri dengan stabilitas psikologis yang mantap dan ilmu yang luas, yang lebih penting adalah memahami heteroginitas dan latar belakang serta kondisi riil bidang garapan dakwahnya (dirasah maidaniyah), dengan harapan bisa memberikan input sesuai dengan sasaran yang dituju, informasi yang selaras dengan kebutuhan fitrahnya. “Sampaikan dakwah ini kepada ummat sesuai dengan kapasitas pemikiran mereka.” (khaathibun naasa ‘alaa qadri ‘uquulihim).

Maksud ayat diatas adalah : Serulah manusia, hai Muhammad, kepada dinullah (agama Allah) dan syariat-Nya yang suci dengan uslub (gaya) yang bijaksana, halus dan lembut, yang bisa memberikan kesan dan pengaruh yang signifikan kepada mereka (bimaa yu-atstsiru fiihim wa yanja’u), bukan dengan cara yang keras dan kasar (Lihat: Shafwatut Tafasir II : 148).

Sebagaimana dakwah dengan sikap lemah- lembut yang diperagakan oleh Musa dan Harun ketika mengajak raja Fir’aun ke jalan Islam.

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”.
Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

Dakwah disini berisi seruan terhadap manusia yang diselimuti berbagai kegelapan kekafiran (zhulumatul kufri) agar mereka kembali kepada cahaya iman (nurul iman), menapaki jalan yang lurus, yaitu dienul haq, agama yang benar. Sehingga fitrah manusia terlindungi dari berbagai kontaminasi ideologi, budaya, kebiasaan, pola pikir dan pola sikap yang tidak Islami. Dalam melakukan tugas dakwah (wazhifatud da’wah) diajarkan oleh al-Qur’an menggunakan tiga metode.

Pertama, Al-hikmah.

Yaitu, dengan pendekatan yang bijaksana. Mengedepankan akal budi yang mulia, dada yang lapang (insyirahush shadri), hati nurani yang bersih dari interes pribadi dan kepentingan lain-lain. Dengan metodologi ini diharapkan mempunyai daya tarik tersendiri (magnet power) manusia menuju kepada inti (jauhar) ajaran Islam, yakni tauhidullah (mengesakan Allah).

Hikmah terkadang dimaknai sebagian orang dengan filsafat. Padahal hikmah itu inti filsafat, lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dijangkau oleh orang yang terlatih kecerdasannya dan lebih tinggi cara berfikir dan berlogika. Sedangkan hikmah bisa dipahami oleh orang yang belum maju cara berfikirnya. , namun tak bisa dibantah oleh orang yang wawasannya lebih luas. Hikmah tidak sebatas ucapan verbal, tetapi jelmaan dari tindakan dan sikap hidup.

Kedua, Al-mau’izhatul hasanah,

Bermakna pengajaran atau pesan-pesan yang baik, yang disampaikan sebagai nasehat. Sesungguhnya bentuk nasihat itu hanya ada dua. Pertama, nasihat yang selalu berbicara, yaitu al-Qur’an; dan nasihat yang senantiasa diam, yakni kematian (al-maut).

Nasihat yang baik ini bentuk pendidikan yang tersendiri. Nasihat orang tua berupa praktek kehidupan keagamaan di dalam rumah tangga sejak kecil – sebelum si anak terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang lain – akan memiliki pengaruh yang penting dalam pembentukan serta pewarnaan kepribadiannya, kelak di kemudian hari. Sebab, contoh beragama sejak usia dini akan membekas ketika kelak menjadi dewasa.

Ketiga, Jadilhum bil-latii hiya ahsan.

Bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau ditemukan bantahan dan tukar fikiran (polemik), maka perlu ditempuh jalan yang sebaik-baiknya. Membicarakan persoalan yang diperdebatkan dengan berfikir obyektif dan hati yang jernih. Menghindari ucapan yang menyakitkan dan melukai perasaannya. Tetapi ditunjukkan bukti-bukti dan argumentasi yang ilmiah dan bisa menggungah akal fikiran dan perasaannya, sehingga mereka melihat hujjah (alasan) yang tak terbantahkan.

“Janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” (QS al-Ankabut : 46).

Yakni jangan menyeru Ahli Kitab kepada Islam dan berdiskusi dengan mereka dalam urusan agama kecuali dengan pendekatan yang baik seperti megajak merenungkan ayat-ayat Allah, dan memberikan peringatan dengan mengemukakan alasan- alasan dan penjelasan-penjelasan-Nya (Lihat: Shafwatut Tafasir II, hal. 462).

Imam Al-Fahkr mengatakan : Sesungguhnya orang musyrik datang dengan membawa kemunkaran maka layak untuk dihadapi dengan perdebatan yang lebih keras, dengan mamatikan pemikirannya secara telak dan mematahkan pemahamannya yang keliru terhadap Islam. Adapun terhadap Ahli Kitab, karena mereka beriman dengan turunnya kitab-kitab dan diutusnya para Rasul, mengakui kenabian Muhammad, maka berdebat dengan mereka dengan cara yang lebih santun dan sejuk kecuali orang-orang yang zhalim diantara mereka yang menetapkan anak untuk Allah, dan pernyataan mereka tentang Trinitas, maka mereka harus diajak berdialog dan berdebat dengan pendekatan yang lebih jelek, mematahkan pendapat mereka dan mengungkap kejahilan mereka (Shafwatut Tafasir II, hal. 464).

Ketiga metodologi dakwah diatas sangat diperlukan di segala tempat dan masa. Karena dakwah itu ajakan dan seruan membawa manusia menuju jalan yang lurus (shiratal mustaqiim), bukan propaganda (di’ayah), sekalipun propaganda itu terkadang menjadi alat dakwah. Dakwah lebih mengedepankan usaha meyakinkan, sedangkan propaganda lebih cenderung memaksakan kehendak. Dakwah dengan cara paksaan akan melahirkan ketaatan semu (kemunafikan).

Dakwah membangun kesadaran manusia dengan disentuh potensi dasar yang di miliki, yaitu pendengaran, penglihatan dan hati. Karena membangun komitmen dan kesadaran beragama itu tidak boleh ada pemaksaan kehendak (QS. al-Baqarah : 256).

Kebenaran dan kesesatan itu telah jelas perbedaannya. Urusan memberi petunjuk dan menyesatkan seseorang adalah wewenang Allah semata. Seorang da’i sebatas penyampai pesan (muballigh), pembuka pintu hidayah, bukan pemutus perkara benar dan salah (hakim).

Inilah pedoman, tuntunan dakwah di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Berdakwah di tengah-tengah berbagai aliran pemikiran, upaya peragu-raguan (tasykik), pembaratan (taghrib), peperangan pemikiran (al-ghazwu al-fikri), usaha-usaha menjauhkan pemeluk Islam dari agamanya (tab’id), dan menawarkan kehidupan skuler (laa- diniyyah), memerlukan format dakwah yang lebih menarik, sesuai dengan tingkat kebutuhan sejarah dan zamannya. Dakwah dengan cara konvensional tentu tidak menarik di kalangan masyarakat modern, yang lebih maju cara berfikirnya. Tetapi kita harus yakin sesungguhnya setiap ajakan yang luhur pasti akan ada yang merespon (likulli da’watin mujiib).
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ (رواه أحمد وأبو داود والترمذي(
“Siapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Ketiga metodologi dakwah yang Qur’ani diatas akan tetap berlaku menurut perkembangan zaman, dan pemikiran manusia. , karena pada dasarnya metode dakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, bantahan yang logis akan selalu memperoleh tempat yang layak di benak publik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s